Hubungan Kejadian Stunting Dengan Perkembangan Balita (12-60 Bulan) Di Desa Kotakan-Situbondo
Keywords:
KPSP, perkembangan balita, StuntingAbstract
Latar Belakang : Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sejak 1.000 hari pertama kehidupan dan berdampak terhadap perkembangan anak. Desa Kotakan memiliki prevalensi Stunting tertinggi seKabupaten Situbondo yaitu 30,9% lebih tinggi dari prevalensi Provinsi Jawa Timur tahun 2023. Namun, belum ditemukan laporan resmi mengenai masalah perkembangan balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kejadian Stunting dengan perkembangan balita usia 12–60 bulan di Desa Kotakan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Cross Sectional dan uji korelasi Kendall’s tau_b. Data dikumpulkan dari 71 responden melalui pengukuran status gizi berdasarkan TB/U atau PB/U dan penilaian perkembangan menggunakan KPSP. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 43,7% responden dengan perkembangan sesuai, 32,4% meragukan dan 23,9% kemungkinan penyimpangan. Dari hasil analisis statistik diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,001 (p < 0,05 ) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,596 maka H0 ditolak dan Ha diterima dengan demikian ada hubungan antara kejadian Stunting dengan perkembangan balita. Kesimpulan : Meskipun Stunting secara teori dapat mempengaruhi perkembangan, dampaknya bergantung pada faktor lain seperti sosial ekonomi, ASI Eksklusif dan stimulasi. Harapannya dibentuk kembali kelompok pendukung ASI, meningkatkan frekuensi edukasi tentang ASI Eksklusif dan PMBA di masyarakat, pelatihan kader tentang pemantauan perkembangan dan stimulasi melalui buku KIA.








